Malam-malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan selalu membawa suasana berbeda. Di banyak kampung, termasuk yang masih menjaga tradisi lama, lampu-lampu dinyalakan lebih terang dari biasanya. Ada yang bilang ini sekadar simbol, tapi bagi sebagian lain, ini bentuk harapan agar hati ikut “terang” saat menjemput Malam Lailatul Qadar.
Menariknya, pencarian tentang “doa pasang lampu malam Lailatul Qadar” meningkat setiap tahun. Namun, tak sedikit yang merasa bingung, apakah ada doa khusus? Atau ini hanya kebiasaan turun-temurun yang tak punya dasar jelas?
Tidak Ada Doa Khusus, Tapi Ada Amalan Utama
Perlu dipahami, dalam literatur hadis dan amalan yang diajarkan ulama, tidak ditemukan doa khusus saat menyalakan lampu di malam Lailatul Qadar. Ini sering jadi titik kebingungan. Bahkan, beberapa jamaah pernah merasa “kurang afdol” kalo tak membaca doa tertentu saat menyalakan lampu. Padahal, itu tak wajib.
Namun, bukan berarti momen ini kosong dari doa. Justru, malam Lailatul Qadar adalah waktu terbaik untuk memperbanyak doa yang diajarkan Rasulullah.
Doa yang paling dianjurkan dibaca pada malam tersebut adalah:
Arab:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Latin:
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai memaafkan, maka maafkanlah kami.”
Doa ini diriwayatkan dari hadis yang cukup populer dan sering dijadikan rujukan utama oleh para ustaz dalam berbagai kajian Ramadan. Jadi, ketika lampu dinyalakan, sebenarnya yang lebih utama adalah menghidupkan malam dengan doa ini, bukan ritual lampunya itu sendiri.
Baca juga: Niat Shalat Tarawih dan Doa Kamilin Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Tradisi Menyalakan Lampu: Simbol yang Menguatkan Niat
Di beberapa daerah, tradisi menyalakan lampu dianggap sebagai bentuk penyambutan malam penuh kemuliaan. Bahkan, ada keluarga yang sengaja mengganti lampu rumah agar lebih terang. Ini bukan tanpa alasan.
Secara simbolik, cahaya sering dikaitkan dengan hidayah. Maka, ketika lampu dinyalakan, harapannya hati juga ikut diterangi. Meski begitu, penting untuk tak terjebak pada simbol saja. Ini yang kadang jadi tantangan.
Ada cerita menarik dari salah satu jamaah di Lumajang. Mereka sudah rutin menyalakan lampu terang setiap malam ganjil, tapi merasa ada yang kurang. Setelah ditelusuri, ternyata waktu malam lebih banyak habis untuk persiapan teknis memasang lampu, merapikan halaman dibanding memperbanyak ibadah. Ini contoh kecil bagaimana fokus bisa bergeser tanpa disadari.
Doa yang Bisa Dibaca Saat Menyalakan Lampu
Meski tak ada doa khusus, kita tetap bisa membaca doa umum sebagai bentuk niat ibadah. Misalnya:
Arab:
بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ نُورًا فِي قُلُوبِنَا وَنُورًا فِي بُيُوتِنَا
Latin:
Bismillah, Allahumma ij’al nuuran fii quluubinaa wa nuuran fii buyuutinaa
Artinya:
“Dengan nama Allah, ya Allah jadikanlah cahaya di dalam hati kami dan cahaya di rumah-rumah kami.”
Doa ini tak spesifik untuk lampu atau Lailatul Qadar, tapi maknanya sangat relevan. Dan seringkali, doa sederhana seperti ini justru terasa lebih “kena”.
Kesalahan yang Sering Terjadi (Dan Perlu Diperbaiki)
Beberapa kesalahan umum yang sering ditemui:
- Menganggap menyalakan lampu sebagai amalan wajib.
- Lebih fokus pada dekorasi daripada ibadah.
- Mengabaikan doa utama yang diajarkan Rasulullah.
- Menunda ibadah dengan alasan “masih menyiapkan suasana”.
Ini bukan soal benar atau salah sepenuhnya, tapi lebih ke prioritas. Kadang kita terlalu semangat pada hal-hal yang terlihat, tapi lupa pada yang lebih substansial.
Baca juga: Tata Cara Shalat Tarawih Lengkap Sesuai Sunnah dan Praktik yang Dianjurkan
Tips Menghidupkan Malam Lailatul Qadar Secara Optimal
Agar momen ini tak berlalu begitu saja, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Niatkan setiap aktivitas, termasuk menyalakan lampu, sebagai bagian dari ibadah.
- Fokus pada doa utama Lailatul Qadar.
- Kurangi aktivitas yang tak mendukung kekhusyukan.
- Perbanyak istighfar dan dzikir ringan.
- Buat suasana rumah tenang, bukan hanya terang.
Dan ya, tak harus sempurna. Bahkan kalo hanya sempat duduk sebentar sambil berdoa dengan hati yang hadir, itu sudah sangat berarti.
Di akhirnya, yang dicari bukan sekadar malam yang terang oleh lampu. Tapi malam yang hidup oleh doa, dzikir, dan harapan yang tulus. Kadang sederhana, tapi justru di situlah letak kekuatannya.
Editor: Doa Islami
Sumber: Dari berbagai sumber




